Semarang – UIN Walisongo Semarang melanjutkan rangkaian site visit akreditasi internasional oleh ACQUIN (The Institute for Accreditation, Certification and Quality Assurance) melalui pelaksanaan asesmen Klaster 1 pada 16–17 Juli 2026. Sebanyak 12 program studi mengikuti proses evaluasi yang dilaksanakan oleh 13 asesor internasional dari berbagai negara sebagai bagian dari akreditasi internasional terhadap 38 program studi UIN Walisongo.

Asesmen dilaksanakan melalui enam sesi utama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di lingkungan UIN Walisongo. Sesi pertama diawali dengan University Management Discussion yang diikuti oleh Rektor, para Wakil Rektor, serta pimpinan lembaga. Pada sesi ini dipaparkan arah kebijakan strategis universitas, implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), pengembangan akademik, internasionalisasi, tata kelola kelembagaan, serta berbagai capaian institusi dalam mendukung peningkatan mutu berkelanjutan.

Sesi kedua dilanjutkan dengan Faculty and Programme Management Discussion, yang mempertemukan tim asesor dengan dekan, wakil dekan, ketua program studi, dan sekretaris program studi. Pembahasan difokuskan pada implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama internasional, tata kelola program studi, serta mekanisme penjaminan mutu di tingkat fakultas dan program studi.

Adapun 12 program studi yang mengikuti asesmen Klaster 1 meliputi Program Studi Manajemen Dakwah, Manajemen Haji dan Umrah, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Pengembangan Masyarakat Islam, Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Ekonomi Islam, Akuntansi Syariah, Hukum Pidana Islam, Hukum Keluarga Islam, Ilmu Hukum, dan Hukum Ekonomi Syariah.

Proses asesmen dilakukan oleh 13 asesor internasional yang berasal dari perguruan tinggi dan institusi bereputasi di Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Setiap program studi dinilai oleh representative of science yang memiliki kepakaran sesuai bidang keilmuan masing-masing sehingga proses peer review dapat berlangsung secara objektif, independen, dan mendalam.

Tim asesor tersebut terdiri atas Prof. Dr. Harry Harun Behr (Goethe University Frankfurt, Jerman) untuk bidang Islamic Guidance and Counselling; Prof. Dr. Fatima El Issawi (University of Essex, Inggris) untuk Islamic Communication and Broadcasting; Prof. Dr. Ahmet Alibašić (University of Sarajevo, Bosnia and Herzegovina) untuk Da’wah Management; Dr. Jörn Thielmann (FAU Research Centre for Islam and Law in Europe, Jerman) untuk Islamic Community Development; Prof. Dr. Mohamed Mohamed Kamal Battour (A’sharqiyah University, Oman) untuk Hajj and Umrah Management; Dr. Ramziah Binti Wan Muhammad (International Islamic University Malaysia) untuk Islamic Criminal Law; Prof. Dr. Sami Al Daghistani (Lund University, Swedia) untuk Sharia Economic Law; Prof. Dr. Ayang Utriza Yakin (UCLouvain, Belgia) untuk Islamic Family Law; Prof. Dr. em. Michael Geistlinger (Paris Lodron Universität Salzburg, Austria) untuk bidang Hukum; Prof. Dr. Hussein Abdou (Northumbria University Newcastle, Inggris) untuk Islamic Economics; serta Prof. Dr. Zulkarnain Muhamad Sori (INCEIF University, Malaysia) untuk Sharia Accounting.

Selain asesor akademik, ACQUIN juga melibatkan Sabine Gothe, praktisi profesional dari Skygate GmbH, Jerman, sebagai Representative of Professional Practice, serta Elisa Garcia Knief, mahasiswa Leibniz University Hannover, Jerman, sebagai Student Representative. Keterlibatan akademisi, praktisi, dan mahasiswa internasional menjadi salah satu karakteristik asesmen ACQUIN dalam mengevaluasi mutu pendidikan tinggi secara komprehensif.

Pada sesi ketiga, Administration Staff Discussion, tim asesor berdialog dengan kepala biro, kepala unit pelaksana teknis (UPT), serta tenaga kependidikan untuk mengevaluasi sistem administrasi dan layanan pendukung. Pembahasan meliputi layanan akademik, perpustakaan, laboratorium, teknologi informasi, pusat bahasa, kantor urusan internasional, serta berbagai sistem pendukung yang menjadi bagian integral dari penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Selanjutnya, asesor melaksanakan sesi terpisah bersama mahasiswa dan alumni untuk memperoleh perspektif mengenai pengalaman belajar, kualitas layanan akademik, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tridarma, serta relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Proses asesmen kemudian dilanjutkan melalui Discussion with Academic Staff, yang berfokus pada implementasi pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kompetensi dosen, serta budaya akademik yang mendukung peningkatan mutu berkelanjutan.

Rangkaian visitasi ditutup melalui Feedback and Concluding Meeting, di mana tim asesor menyampaikan hasil observasi awal, apresiasi terhadap berbagai praktik baik yang telah diterapkan, serta sejumlah rekomendasi strategis sebagai masukan bagi penguatan sistem penjaminan mutu dan pengembangan institusi di masa mendatang.

Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Walisongo, Dr. Saminanto, M.Sc., menjelaskan bahwa setiap sesi asesmen dirancang untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai implementasi budaya mutu di lingkungan universitas. Menurutnya, proses peer review oleh ACQUIN menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi UIN Walisongo untuk memperoleh umpan balik dari para pakar internasional sekaligus memperkuat sistem penjaminan mutu yang telah dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Pusat Akreditasi, Sertifikasi, dan Pemeringkatan LPM UIN Walisongo, Dr. Anila Umriana, M.Pd., selaku koordinator pelaksanaan visitasi, menyampaikan bahwa koordinasi antara LPM, fakultas, program studi, dan seluruh unit pendukung menjadi faktor utama dalam keberhasilan pelaksanaan asesmen. Menurutnya, seluruh tahapan, mulai dari penyusunan Self Assesment  Report (SAR), simulasi asesmen, sinkronisasi data, hingga pelaksanaan visitasi lapangan telah dipersiapkan secara sistematis agar tim asesor memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai implementasi sistem penjaminan mutu di UIN Walisongo.

Pelaksanaan asesmen Klaster 1 semakin memperkuat komitmen UIN Walisongo dalam mengimplementasikan budaya mutu yang berkelanjutan serta meningkatkan daya saing internasional. Melalui proses evaluasi berbasis European Standards and Guidelines (ESG) dan masukan dari para pakar dunia, universitas berharap memperoleh pengakuan internasional sekaligus memperkuat kualitas penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi di tingkat global.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *