UIN Walisongo Online, Surabaya – Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melakukan benchmarking ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terkait layanan kemahasiswaan, Kamis (7/10/2021). Rombongan diterima langsung oleh Direktur Kemahasiswaan ITS Dr. Imam Abadi, Kepala Subdit Pengembangan Kemahasiswaan Yeyes Mulyadi, PhD dan Bagian Layanan Kemahasiswaan (Aris Purnomo, B.Sc, serta tim dari direktorat kemahasiswaan.

Rombongan UIN dipimpin oleh Kepala Pusat Pengembangan Standar Mutu Antin Latifah, M.Ag., Kepala Pusat Pendampingan dan Pengembangan Mutu Mahasiswa Johan Arifin, M.M. serta tim penyusun intrumen kemahasiwaan.

Dalam penyampaiannya, Antin menyampaiakan bahwa kunjungannya ke ITS adalah untuk menimba ilmu terkait pengembangan kemahasiswaan. ITS dipilih karena dinilai punya sistem yang baik dalam pengembangan dan peningkatan kualitas mahasiswa. ITS punya regulasi, sistem dan budaya yang untuk mengembangkan karakter mahasiswa.

“Kami niatnya belajar. Ingin memperkuat kualitas tentang kemahasiswaan. ITS punya reputasi internasional sehingga pantas menjadi tempat untuk belajar tentan pengembangan kewirausahaan dan karir, dan bidang layanan mahasiswa,” kata Antin.

Lebih lanjut, rombongan ingin mengambil ilmu terkait standar pengembangan mahasiswa, dan pengembangan instrumen. Selain itu, tim ingin belajar dengan detail tentang pengelolaan kemahasiswaan berikut pengembangannya.

Hilirisasi

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Dr. Imam Abadi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim UIN Walisongo atas kepercayaannya menjadikan ITS sebagai tempat percontohan. Hal ini tentunya akan memberikan semangat untuk kampusnya terus berkembang.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa ITS hingga 2030 mendatang berfokus menjadi kampus riset dan inovasi. Oleh karena itu, semua kebijakan akan diarahkan untuk mendukung hal tersebut. Salah satu yang dikembangkan adalah hilirisasi. Kebijakan di sektor kemahasiswaan juga diarahkan untuk mendukung roadmap tersebut, baik yang dikembangkan oleh riset dosen maupun mahasiswa.

“Kami punya robot raisa, motor listrik gesits dan macam-macam, ini semua diarahkan menjadi karya inovatif agar dihilirisasi. Saat ini fokus pada hilirisasi. Ke depan, kami berusaha untuk menjadi kampus enterpreneural pada 2040. Nah, kemahasiswaan fokusnya pada pengembangan karir agar mulai memperbanyak alumni start up,” jelasnya.

Untuk menunjang hal ini, ITS berupaya memperkuat sumber daya manusia, melakukan pengembangan inovasi, layanan digital sehingga menjadi kampus bereputasi internasional. Khusus dalam bidang kemahasiswaan, ITS membangun ekosistem kemahasiswaan, salah satunya dengan mengintegrasikan dengan kurikulum.

“Jadi, semua bisa diakui menjadi sks. Misalnya menjadi juara 1 nasional, selain mendapat hadiah uang, juga bisa dikonversi untuk diakui menjadi sks,” tambahnya.

Untuk menjunjang ekosistem ini, ITS membuat assesement untuk mengukur indikator skil mahasiswa, melalui platform teknologi berbasis digital. Sistem ini merangkum semua aktivitas akademik dan non-akademik mahassiwa.

“Melalui sistem ini, mahasiswa bisa langsung mendapat ijazah dan SKPI,” tambahnya.

Imam menjelaskan, ekosistem kemahasiswaan terlaksana dengan baik dengan transformasi di bidang digital. Untuk menunjang sistem ini, ada 10 sistem dari sistem beasiswa sampai beasiswa. Semua sistem juga terintegrasi menjadi satu.

“Dengan pola ini, kami data yang terkumpul ada semua. Tinggal download dan buktinya, ada verifikasinya,” tandasya.

Kegiatan diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari kedua belah pihak. (Tim Humas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *